Perkedel Talas by Djeng Kamto

Perkedel Talas

Dear Host Yang Bersemangatt dan NCCers yang tercinta
Untuk memeriahkan NCC Pangan Lokal Week, kembali saya kirimkan satu karya saya yang sederhana namun cukup menggugah selera:)

Siang ini saya kirimkan resep perkedel talas. Oh ya sebenarnya saya sedang dalam kebimbangan yang mendalam:) apakah karya saya ini cocok diberikan nama perkedel, ataukan kroket ? Hi hi entahlah saya juga nggak cukup mengerti apa nama yang lebih cocok diberikan, karena memang mirip.Yang jelas kalau perkedel aseli Indonesia, sedangkan kalau kroket agak ke Belanda Belandaan.

Perkedel Talas ini terbuat (atau terbikin ? apa yaa bahasa yang pas ??) berawal dari ketidak sengajaan saya saat mencoba membuat sebuah karya dari bahan talas dan telur, namun gagal. Akhirnya hi hi hi daripada terbuang sia sia …hmm saya coba membuat perkedel talas ini. Ternyata hasil nya enaakkk, paduan rasa gurih , dan “medhuk” (Apa yaa Bahasa Indonesianya medhuk??Mungkin rasa bertepung gitu yaa) berbaur dengan harum seledri, dan merica serta bawang merah.

Talas didesa saya di Jawa Timur sering  disebut “Enthik” atau  “Mbothe/Nggothe (baca huruf e nya kayak pada lafal e pada kata enak). Talas ini berbeda dengan Bentoel yaa, meski mungkin masih satu rumpun (CMIIW). Talas kurang diminati oleh anak anak, atau generasi muda karena rasanya yang gurih ringan cenderung tawar.. Mungkin ubi ungu atau singkong lebih mendapatkan tempat dihati masyarakat dibanding talas. Entahlah, mungkin karena rasanya yang tidak ngalor tidak ngidul:)). Di desa dalam keseharian,  talas biasa disajikan dengan cara dikukus begitu saja dengan penambahan sedikit garam

Saat ini talas masih banyak dijual dipasar tradisional , pembelinya mungkin generasi generasi “sepuh”/tua yang tengah berdiet, atau orang orang yang memerlukannya sebagai ubo rampe (kelengkapan) ritual tertentu (berkaitan dengan beberapa kepercayaan yang menyertakan umbi umbian/polo pendhem (Bahasa Jawa)  dalam sajian nasi tumpeng untuk peletakan batu pertama dalam pendirian bangunan). Psssttt….Saya termasuk generasi tanggung uhmm…he he muda banget engga, tua banget juga belum hi hi GR…..yang sebenarnya juga kurang suka dengan si talas ini . Berkat adanya NCC Pangan Lokal Week ini akhir nya jadi pingin tahu juga gimana jadinya kalau talas ini dijadikan bahan olahan.

Yuk kita mulai yaa membuat Perkedel Talas :

Bahan :

125 gram talas yang telah dikukus, haluskan

Telur 1 butir

Seledri iris tipis 1 batang

Tepung sagu tani kurang lebih 1 sdm (atau pakai kira kira agar nanti adonan mudah untuk dipulung/dibulatkan)

Tepung panir secukupnya (bila suka)

Bumbu (diulek/dihaluskan):

Garam 1 sdt

Merica halus ½ sdt

Gula (bila suka) ½ sdt – (Saya suka masakan yang cenderung agak manisJ)

1 siung bawang putih & 2 siung bawang merah (digoreng utuh)

Penyedap rasa bila suka

Cara Pembuatan :

  1. Haluskan (diulek) talas kukus segera saat hangat
  2. Campurkan dengan bumbu, kemudian telur dan daun seledri hingga rata
  3. Campurkan dengan tepung sagu tani hingga rata mudah untuk dipulung
  4. Gulingkan diatas tepung panir
  5. Goreng didalam minyak yang telah dipanaskan, dengan api sedang
  6. Siap disajikan dengan cabai rawit atau saus sambal

Begitu perkedel ini matang, saya baru kepikiran, kenapa tadi nggak pakai tambahan daging cincang apa keju yaa he he pasti rasanya lebih uenakkkk.

Perkedel talas ini mungkin bisa disajikan sebagai snack/kudapan, untuk orang orang/anak anak berkebutuhan khusus yang membatasi asupan gluten (mungkin bisa dibilang nyaris bebas gluten/almost gluten free yaa). Penggunaan tepung panir bisa diskip bila diperlukan. (CMIIW)

Oh ya ngomong ngomong sambil menikmati gorengan ini saya juga baru nyadar, kalau perkedel ini bisa dijadikan pelengkap tumpeng (yang biasa saya juall hi hi hi dasar bakul tetepp aja jualann pikirannya). Ini tentu jauh lebih ekonomis dibanding perkedel kentang. Coba kita bayangkan kentang saat ini ditempat saya dijual Rp. 14.000,- per kilo, sedangkan talas ini dijual cuma Rp. 5.000, -…wow bedanya cukup fantastis bukan J. Rasa perkedel talas ini menurut saya yaaa dua belas tiga belaslah dengan perkedel kentang, beti alias beda tipis.

Beneran dech bahan talas ini sangat layak untuk dipertimbangkan keberadaannya. Daripada kita impor kentang, lha mendingan kita kembangkan saja tho budidaya talas ini. Sudah harganya lebih murah, saya yakin budidaya nya pun tidak lebih sulit dibandingkan kentang. Ntar kita usulkan yaa pada pemerintah  (halahhhh hi hihi)

Yang masih penasaran dengan si perkedel talas ini buruan yaa resepnya dicoba dirumah masing masing, mumpung keberadaan talas belum menjadi barang langka. Semoga resepnya bermanfaat yaaaa…

Advertisements